Vespa, a die harder and a living legend-Part 1

Sebuah Trilogy karya Arya Indra

Salam,

Menyebut kata Vespa, yang terbayang adalah sebuah motor dengan body kembung dan suara mengetuk-ketuk dari knalpot samping. Saking khasnya ciri ini, hampir semua lapisan masyarakat mengenalnya.
“Oh vespa, body bulet khan”
“Vespa 2 tak yah?”
“Motor pak guru”

Silakan tambahkan, maka halaman web akan dipenuhi beragam statement.

Meski demikian, perlahan Vespa mulai di gerus zaman. Musababnya? UANG. Ya, sebuah Vespa bisa bernilai jutaan, jika jatuh ketangan penggemar fanatik. Dan lucunya, penggemar fanatik tidak datang dari Indonesia. Mereka menyiapkan dana ribuan dollar untuk menebus satu Vespa. Sementara pemilik Vespa (yang tidak paham jenis motornya), melepas hanya dalam hitungan juta.

Sebuah sms hinggap di HP saya, beberapa bulan silam “Vespanya mau di lepas berapa mas?”. Saya membuat janji, dan akhirnya kita bertemu.
“Ini masih cat ori, STNK BPKB, plus dem-deman dari ABRI. Kakek saya tugas di Kongo. Pulang bawa Vespa. Di BPKB tertulis, CBU oleh Kapal NV Apollo. Manual booknya bahkan dalam bahasa Itali” ujar saya
“Hmm kalo begitu, XX (menyebut nomimal) juta mau?” tanyanya
Saya hanya tersenyum

“Maaf mas, motor ini tidak saya jual. Ini obat saya. Boleh percaya atau tidak, kalau saya pulang dinas luar kota dan badan pegal, saya naik motor ini sembuh.” jelas saya sambil menepuk sadel berlogo “AREJNA”

Tamu saya terdiam seribu bahasa, pamit pulang dan ngeloyor pergi……….

*******

Dua bulan silam, diperempatan KP Melayu, sebuah Sprint Bagol melintas.
“Vespa Sprint yah?” tanya saya
“Iya mas. Kenapa? lagi nyari yah?” ujar sang rider
“Klo situ mau jual, saya beli” dan kami menepi.
Pepatah lama, rejeki tak akan kemana, kali ini berlaku pada saya. “Saya catat dulu yah nomor rangka dan mesin, buat ngecek ke samsat”
“Boleh mas”
“BTW, mau dilepas berapa?”
“Ngga kok mas, cuma pengen tukar HP aja!”
“Seri apa?”
“Gak penting, yang pasti dua jutaan. Eh mas mau pake apa dijual lagi? klo buat pake sendiri, saya jual”
Lagi-lagi saya tersenyum di dalam hati, “Sebegitu murahnya kah Vespa?”
Walhasil, Sprint itu kali ini sedang dalam proses restore yang budgetnya tarik-ulur dengan biaya persalinan

******

Suatu saat, saya pergi ke daerah Cisarua. Sebuah Vespa Extrim nongkrong disana. Bodynya di potong, setang lebar, shockabsorber ceper, karat-dimana mana. Saya terenyuh melihatnya.
“Klo gak salah ini Sprint yah?” ujar saya membuka percakapan
“Iya bos. Ini Sprint”
Saya lantas melonggok nomor body. Kode 02 menempel di depan jejeran nomor rangka.
Saya terdiam.
“Boleh lihat BPKB nya pak”
“Oh boleh” jawabnya dengan keluguan
Hari itu, saya menangis dalam hati membaca data motor, yang ditulis dengan tinta dan huruf besar-besar.
Nomor rangka : 02 XXX XXX
Nomor mesin : 01 xxx xxx
Jenis motor : Scooter
Tahun pembuatan: 1972
Perakitan : Import dari PT ABC Motor Semarang

5 Balasan ke Vespa, a die harder and a living legend-Part 1

  1. didin endhut mengatakan:

    tambah persaudaraan lagi antar penggemar scooter
    cause scooter must never die!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    lam kenal !!!!!!!!!!!!!!!!!!

  2. ayas mengatakan:

    Nomor rangka : 02 XXX XXX
    Nomor mesin : 01 xxx xxx
    Jenis motor : Scooter
    Tahun pembuatan: 1972
    Perakitan : Import dari PT ABC Motor Semarang<—maksudnya apa bos?vespa produksi awal2 ya?

  3. ekobanana mengatakan:

    Mungkin salag satu importir Vespa my bro… like PT. DAN Motor

  4. Udin PX mengatakan:

    Owe pengen banget punya Vespa Kongo mo d tuker om ma Vespa PX punya owe???

  5. Udin PX mengatakan:

    Kalo ada Vespa kongo berarti produksi bukan di itali aja donx Om

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: